Upacara Sekaten: Tradisi Menyatukan Budaya dan Iman

Upacara Sekaten: Tradisi Menyatukan Budaya dan Iman – Upacara Sekaten merupakan salah satu tradisi budaya tertua dan paling sakral di Jawa yang hingga kini masih diselenggarakan dengan penuh khidmat. Tradisi ini menjadi simbol perpaduan antara budaya Jawa dan nilai keagamaan yang telah diwariskan selama berabad-abad. Sekaten bukan sekadar serangkaian acara meriah dengan bunyi gamelan dan keramaian pasar rakyat, tetapi juga memiliki makna spiritual mendalam bagi masyarakat. Setiap tahun, ribuan orang dari berbagai daerah datang ke Yogyakarta dan Surakarta untuk menyaksikan dan ikut merayakan sakralnya tradisi warisan kerajaan Mataram ini.

Bagi masyarakat Jawa, Sekaten bukan hanya ritual adat semata. Lebih dari itu, Sekaten adalah wujud penghormatan terhadap nilai moral, kebersamaan sosial, serta syiar agama yang dulunya menjadi jembatan komunikasi antara raja dan rakyat. Dengan akar sejarah yang kuat, Sekaten terus dipertahankan sebagai simbol identitas budaya yang tetap hidup di tengah modernisasi.

Sejarah dan Makna Sakral Upacara Sekaten

Sekaten berasal dari kata Sekati, yakni dua perangkat gamelan pusaka Keraton yang menjadi bagian utama dalam rangkaian upacara: Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogowilogo di Yogyakarta (atau Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari di Surakarta). Gamelan tersebut hanya dimainkan sekali dalam setahun, yaitu sepanjang perayaan Sekaten yang berlangsung selama satu minggu.

Menurut sejarah, tradisi ini dimulai pada masa penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Sunan Kalijaga menggunakan pendekatan budaya sebagai media dakwah untuk mengenalkan ajaran Islam kepada masyarakat setempat. Melalui alunan gamelan yang lembut dan memikat, masyarakat berkumpul di sekitar masjid, kemudian para wali menyampaikan nilai-nilai keagamaan yang berlandaskan pada kasih sayang dan kedamaian. Dari sinilah Sekaten menjadi sebuah tradisi perpaduan antara budaya dan iman, menunjukkan bahwa agama dapat berkembang selaras dengan kearifan lokal.

Puncak sakral dari acara ini adalah upacara Garebeg Mulud, yang diselenggarakan pada tanggal 12 Rabiul Awal sebagai peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada prosesi ini, keraton mengeluarkan Gunungan yang berisi hasil bumi dan dibawa dalam arak-arakan menuju Masjid Gedhe. Masyarakat kemudian berebut isi Gunungan karena dipercaya membawa berkah dan keberuntungan. Tradisi ini mengajarkan nilai syukur, kesederhanaan, dan pentingnya berbagi sebagai bagian dari keharmonisan hidup.

Prosesi Pelaksanaan Sekaten dan Pesonanya bagi Masyarakat

Perayaan Sekaten biasanya berlangsung selama tujuh hari. Prosesi dimulai dengan keluarnya Gamelan Sekati dari Keraton menuju Masjid Gedhe, kemudian dimainkan secara bergantian selama beberapa hari. Ratusan orang akan hadir untuk mendengarkan alunan gamelan yang dipercaya membawa ketenangan dan berkah.

Masyarakat tidak hanya menyaksikan ritual sakral, tetapi juga menikmati suasana semarak pasar malam Sekaten yang dipenuhi pedagang makanan tradisional, kerajinan tangan, permainan rakyat, hingga wahana hiburan. Perpaduan sakral dan meriah inilah yang menjadikan Sekaten unik dan berbeda dari tradisi lainnya di Nusantara.

Beberapa prosesi penting dalam Sekaten antara lain:

– Pisowanan atau upacara penghormatan dari pihak bangsawan dan masyarakat kepada Sultan.
– Pembukaan gamelan Sekati sebagai tanda dimulainya Sekaten.
– Pembacaan doa-doa dan syiar Islam di Masjid Gedhe.
– Garebeg Mulud yang menjadi puncak acara.

Keterlibatan masyarakat dalam tradisi ini bukan sekadar formalitas. Mereka datang dengan harapan, doa, dan rasa syukur. Tradisi ini juga menjadi ruang pertemuan lintas generasi, memperkuat identitas dan mempererat hubungan sosial. Dalam dunia modern yang semakin individualis, Sekaten muncul sebagai perekat budaya yang membangun rasa memiliki terhadap sejarah bersama.

Kesimpulan

Upacara Sekaten adalah bukti nyata bagaimana tradisi dapat hidup dan relevan sepanjang zaman. Perpaduan antara budaya keraton, nilai religius, musik gamelan pusaka, dan partisipasi masyarakat menjadikannya sebagai simbol harmoni antara iman dan adat. Melalui Sekaten, generasi masa kini dapat belajar tentang pentingnya menjaga warisan leluhur, merawat persatuan, dan menghargai keanekaragaman budaya.

Lebih dari sekadar perayaan tahunan, Sekaten adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara tradisi dan kemajuan. Di tengah arus globalisasi, Sekaten menjadi pengingat bahwa identitas budaya tidak boleh hilang, melainkan harus terus dirayakan dan diwariskan. Selama masih ada masyarakat yang mencintai nilai budaya leluhur, Sekaten akan tetap berdiri sebagai tradisi agung yang menyatukan hati dan iman.

Scroll to Top